Harga pertamax ikut turun, impor premium diprediksi berkurang satu juta barrel

Harga pertamax ikut turun, impor premium diprediksi berkurang satu juta barrel

Seperti premium dan solar, harga pertamax juga diturunkan menjadi Rp 8.000 per liter, Senin (19/01/2015). Penurunan ini merupakan dampak terus melemahnya harga minyak mentah dunia.

Diketahui, PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM jenis RON 92 itu dari semula Rp 8.800 per liter menjadi Rp 8.000 per liter.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, harga pertamax memang selalu dievaluasi tiap dua pekan sekali. Lantaran saat ini premium juga sudah tidak disubsidi, perubahan harganya kemungkinan akan selalu dilakukan bersamaan.

Kurang menguntungkan Pertamina

Ahmad mengatakan, pengumuman harga premium yang dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan bisa membuat harga pertamax mudah ditebak. Hal itu kurang menguntungkan bagi bisnis Pertamina. Sebab, SPBU asing bisa lebih dulu menurunkan harga untuk menggaet pembeli.

Di Jabodetabek misalnya, Shell sudah menurunkan BBM kategori Super yang setara Pertamax hingga Rp 500 per liter menjadi Rp 8.400 per liter. Sedangkan V-Power yang setara Pertamax Plus dari Rp 9.900 per liter Rp 9.400 per liter.

“Sebetulnya kalau terlalu terbuka begini juga kurang bagus karena akan dimanfaatkan pesaing. Buktinya Shell sudah menurunkan harga lebih dulu setelah tahu kami akan turun harga,” katanya sebagaimana dilansir JPNN.

Impor premium berkurang 1 juta barrel

Penurunan harga pertamax hari ini juga dinilai Pertamina bakal mengubah pola konsumsi masyarakat yang semakin banyak mengonsumsi pertamax.

“Konsumsinya tidak banyak berubah, pemakai pertamax semakin banyak akibat beda harga dengan premium yang hanya sekitar Rp 1.000 per liter,” ujar Ahmad, Minggu (18/01/2015).

Akibatnya, lanjut Bambang, impor premium akan mengalami penurunan menjadi 8-9 juta barrel per bulan. Sebelumnya, impor premium sekitar 9-10 juta barrel per bulan. Sebaliknya, impor pertamax akan mengalami kenaikan menjadi 2-3 juta barrel per bulan, dari kondisi sebelumnya sebesar 1-2 juta barrel per bulan.

“Impor premium atau pertamax yang lebih banyak tergantung kebutuhan pasar dan perkembangan kemampuan produksi kita sendiri,” imbuh Ahmad seperti dikutip Kompas.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan, perubahan harga BBM yang rencananya akan terjadi setiap dwimingguan akan berkaitan dengan berapa lama stok Pertamina dan perhitungan nilai rata-rata inventorinya. Artinya, lanjut dia, mau kapan pun harga diubah, harus mempertimbangkan nilai inventory Pertamina.

“Sebab, pembelian hari ini tidak langsung masuk ke SPBU, tetapi butuh waktu sampai di depot Pertamina, lalu menyebar ke seluruh Indonesia dan mengubah nilai inventory sebelum dikirim ke SPBU,” jelas Ahmad.

Dia juga menuturkan, kalaupun ada perubahan proses pengadaan minyak, maka hal itu terjadi dalam rangka optimasi peran integrated supply chain (ISC) dan penataan Petral sehingga lebih efisien dan transparan.

Selama ini pengadaan minyak dilakukan oleh Petral, sekarang langsung oleh Pertamina melalui ISC. “Dan Petral hanyalah salah satu trading company yang ikut dalam tender pengadaan tersebut,” kata Ahmad.

Organda pusing

Naik turunnya harga BBM ini sebelumnya sudah disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil beberapa waktu lalu. Sofyan menyampaikan bahwa kemungkinan pemerintah akan menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dalam dua pekan sekali mengikuti pola penyesuaian harga Pertamax.

Dalam menetapkan harga dasar BBM tersebut, pemerintah memakai penghitungan rata-rata harga indeks pasar dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dengan kurs beli Bank Indonesia.

“Nanti kita kebiasaan seperti Pertamax, kalau Pertamax ditetapkan dalam dua minggu sekali untuk sementara Premium ditetapkan satu bulan sekali, tapi mungkin akan disesuaikan dalam dua minggu sekali,” kata Sofyan di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (8/01/2015) lalu.

Namun, naik-turunnya harga BBM setiap dua minggu sekali membuat Organda pusing. Organda pun menilai kondisi itu sebagai pekerjaan rumah besar yang mesti dicari solusinya.

“Iyalah PR (Pekerjaan) banget ya. PR besar untuk Pemda (Pemerintah Daerah) juga di tiap-tiap provinsi,” ujar Ketua Organda Eka Sari Lorena, Jakarta, Sabtu (17/01/2015) lalu.

Dia mengatakan, akibat fluktuasi harga BBM tersebut, membuat Organda dan Pemda harus menghitung ulang biaya operasi angkutan umum.

Terkait penurunan harga BBM jenis premium dan solar, Organda kata Eka sedang melakukan evaluasi tarif angkutan umum setelah penurunan harga BBM oleh pemerintah. Menurut Organda, tak tertutup kemungkinan, ada penurunan tarif sesuai harga BBM.

“BBM kembali turun, premium jadi Rp 6.600 dan solar Rp 6.400. Organda melakukan evaluasi pengaruhnya terhadap biaya operasional, tidak tertutup kemungkinan ada penyesuaian terhadap tarif kelas ekonomi,” kata Eka.

Meski begitu, Organda masih memerlukan perhitungan teknis lebih dalam terkait penyesuaian tarif nantinya. Setelah mendapatkan hitungan terkait tarif, Organda pun akan langsung menyampaikannya kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Hiswana Migas

Berbeda dengan Organda, rencana penurunan BBM yang disampaikan dua hari sebelumnya dinilai sebagai langkah tepat oleh Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).

Pihaknya memang mengharapkan ada cara seperti itu untuk menekan kerugian. Pengusaha makin punya persiapan karena diumumkan pada akhir pekan juga.

Ketua Hiswana Migas Eri Purnomohadi mengatakan, penjualan pada Sabtu dan Minggu memang relatif rendah. Jadi, pengusaha bisa konsentrasi untuk menghabiskan stok yang ada terlebih dahulu. BBM yang baru dibeli bisa disimpan atau dijual setelah stok habis. Pengusaha tetap untung karena setelah diumumkan sudah bisa beli dengan harga baru di Pertamina.

“Menjelang penurunan harga, masyarakat rata-rata menunda pembelian. Menunggu harga baru,” katanya. Itulah kenapa, dia memastikan pembelian masyarakat pada hari ini meningkat tajam. Pihak SPBU memastikan bekerja maksimal untuk melayani lonjakan pembeli.

Enam SPBU di Pantura kehabisan premium
Terkait dengan penurunan harga BBM mulai hari ini, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di Pantura Kendal Jawa, seperti SPBU Tunggul Rejo, Jambearum, Cangkring, Sumberjo, Kebonadem dan Lanji, kehabisan premium.

Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak kebagian ketika hendak membeli bensin. Menurut salah satu karyawan SPBU Kebonadem, Siti, bensin premium sudah habis sejak pukul 09.30 Wib. Antrean panjang sudah terjadi sejak tadi pagi.

“Antrean sudah terjadi sejak pagi tadi. Sekarang sudah habis,” kata Siti, Senin (19/01/2015).

Terkait hal itu, Manajer SPBU Kebonadem, Hasyimi, mengaku bensin premium di SPBU miliknya telah habis sejak pukul 09.30 WIB. Saat ini, stok tambahan masih dalam perjalanan.

“Saya sudah dapat informasi dari Pertamina, mobil yang membawa BBM untuk SPBU sini dalam perjalanan,” ungkap Hasyim.

Sementara itu, salah satu warga Kendal, Adi, mengaku dirinya kebingungan mencari SPBU yang masih ada bensin premiumnya. Akhirnya, lanjut Adi, dirinya terpaksa membeli bensin eceran yang harganya Rp 9.000.

“Saya berjalan sepanjang Pantura Kendal, tapi hampir semua SPBU kehabisan bensin,” kata Adi.

Adi berharap, Pertamina segera bisa mengisi SPBU yang telah habis bensinnya sehingga masyarakat tidak kebingungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar