Jakarta (ANTARA News) - Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) memperkirakan bahwa penerbitan surat utang atau obligasi korporasi akan marak pada semester pertama pada tahun ini.
"Deviasinya tergantung dari situasi suku bunga terutama pengaruh tapering the Fed ke pasar kitaa. Oleh sebab itu, penerbitan akan lebih banyak di semester pertama dibanding semester kedua," ujar Analis PHEI Fakhrul Aufa di Jakarta, Selasa.
Ia memperkirakan bahwa penerbitan obligasi pada tahun ini akan didominasi oleh perusahaan yang bergerak di sektor keuangan yang membutuhkan dana untk melakukan pembiayaan kembali atau "refinancing".
"Penerbitan yang paling besar adalah oleh perusahaan multifinance dan perbankan untk refinancing. Secara umum, besaran penerbitan obligasi tahun ini bisa kitaa lihat dari jumlah yang jatuh tempo," katanya.
Ia mengemukakan bahwa obligasi jatuh tempo pada tahun ini sekitar Rp33,74 triliun, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2014 yang sebesar Rp38,78 triliun. Sementara untk penerbitan obligasi pada tahun 2015 ini diperkirakan mencapai Rp35-Rp40 triliun.
Sementara itu, dalam data Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat, sampai dg Desember 2014 terdapat 49 emisi baru obligasi dan sukuk korporasi serta efek beragun aset (EBA) senilai Rp48,21 triliun yang diterbitkan oleh 36 emiten.
Dibandingkan dg periode yang sama tahun 2013, jumlah emisi pada 2014 menurun sebesar 19,67 persen, jumlah emiten menurun sebesar 23,40 persen, dan nilai emisi menurun sebesar 17,68 persen.
"Faktor utama penurunannya adalah suku bunga yang tinggi di tahun 2014 sebagai imbas dari kenaikan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan ketidakpastian kondisi global. Selain faktor tsb, banyak rencana penerbitan obligasi yang ditunda karena faktor pemilu 2014," kata Fakhrul Aufa.
Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan bahwa pada tahun ini penerbitan obligasi akan didominasi oleh perusahaan pembiayaan yang akan melakukan "refinancing" di 2015.
"Banyak obligasi jatuh tempo, mereka harus menerbitkan obligasi baru. Kalau Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga (BI rate) maka suku bunga pasar obligasi turun, tentunya akan menarik minat emiten-emiten untk menerbitkan obligasi," katanya.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar