Menperin "Valentine" ke Kampung Batik Laweyan

Menperin "Valentine" ke Kampung Batik Laweyan

Surakarta (ANTARA News) - Bertepatan dg hari kasih sayang dunia (Valentine) Menperin Saleh Husin blusukan ke Kampung Batik Laweyan di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu, untk melihat langsung pengembangan produk berbasis warisan budaya yang sudah diakui UNESCO itu.

Didamping sang istri Andresca, Saleh Husin menyusuri lorong-lorong kampung batik yang sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang 1546 itu, dg naik becak tradisional Surakarta. Beberapa kali ia bersama istrinya dan rombongan mampir mengunjungi beberapa toko yang merangkap bengkel kerja para perajin batik Laweyan yang sudah ditekuni turun temurun itu.

Di sela kunjungan itu Andresca menyempatkan memborong sejumlah pakaian dan kain batik dg desain khas Surakarta dari para perajin. Mungkin ia teringat pesan Walikota Surakarta Hadi Rudyatmo agar belanja batik sebanyak-banyaknya, apalagi ada "Solo Great Sale." Sementara itu Sang Suami menyempatkan diri ngobrol dg perajin untk mengetahui prospek dan kendala pengembangan produk berbasis warisan budaya itu. Bahkan ia mencoba membatik bersama sejumlah anak kecil di sekitar lokasi tsb.

"Kawasan seperti ini harus dilestarikan dan didukung pengembangannya agar bisa terjaga keberadaan," ujar Menperin sambil meladeni permintaan foto dari sejumlah pengusaha dan perajin batik yang dikunjungi.

Ia pun nampak tdk lelah dan terus menebar senyum memenuhi permintaan foto dan kunjungan, meskipun sebelum ke Laweyan, sejak pagi sudah blusukan ke pabrik mebel PT Wisanka di Klaten yang letaknya sekitar 25 km dari Laweyan.

"Kunjungan ini juga ingin mengetahui efektivitas bantuan yang telah Kemenperin berikan, seperti peralatan dan pembinaan desain, serta bantuan apalagi yang mereka butuhkan agar batik tetap berkembang," kata Menperin. Kampung Batik Laweyan yang luasnya mencapai sekitar 24 hektare tsb merupakan sentra batik terkenal dan mengalami masa kejayaan pada 1970-an.

Sentra batik tsb seperti memiliki motif batik khas seperti Tirto Tejo dan Truntum. Harga dan kualitas batiknya pun beragam mulai dari harga di bawah Rp100 ribu sampai jutaan rupiah.

Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar